Kamis, 23 November 2017

Aku, Kau dan Loteng


Ada yang ingin kurangkai dalam kesunyian
kuambil ceceran puzzel yang berhambur
kupikir aku harus menulis ini agar tidak lupa
Tentang malam pertama sekali kita menatap bulan di loteng

Bulan bulat saja, tentu kita tidak berdua
Aku terbunuh dibawah tatapan matamu
Ujung jari menggigil tersentuh tiga
Senyummu membenam, jahat dan penuh maksud

Tidak ada yang bisa kukatakan
Gombalan pemilik rumah
Sampah yang lama disimpan
Panggilan lembut cuci tangan dan berwudhu

Lagu yang kita suka masih diputar dari radio
Hujan terjatuh diloteng membadai
"Kau pecinta hujan bukan?" Tanyamu
tentu, setiap moment yang kusukai sambil menatap lampu kota
aku kesenangan ketika hujan juga turun....

Tidak ada percakapan tentang perasaan
Katamu, biar saja waktu yang membuktikan tentang rasa kita
Jika ia menguat oleh jarak maka akulah yang kau tunggu
Katamu juga, jarak adalah tempat kita menguji doa

Katamu, aku akan pulang dan meninggalkan kenangan loteng
katamu, kau lebih suka menatap punggung yang menjauh meninggalkanmu
Tapi aku? saat mataku tidak terpejam pada jam 3 pagi
aku selalu senang jika kau ada bersamaku, bercerita tentang kisah sebelum kita

Kita hanya dua orang yang dirundung kepedihan hati
Mencoba saling menghibur dan melengkapi
Kita hanya dua orang yang sedang menunggu seseorang
Kita duduk menunggu di loteng berharap yang ditunggu datang

kita, cerita loteng
kita, cerita hujan
kita, cerita tentang kesunyian
Kita, cerita tentang lampu kuning 
Kita, cerita yang entah usai entah dilanjutkan....

Luwuk, November 2017

Minggu, 17 September 2017

Buai

Perempuan itu berdiri di sana, menatap perahu yang sedang menepi.
"Apakah kamu sehat?" tanyaku
"Aku baik-baik saja"
Lalu ruang diam kami hanya di isi oleh desauan angin, perempuan itu masih menatap perahu, kali ini dia menatap kekosongan.
"Aku minta maaf"
"Tidak apa-apa"
"Mengertilah"
"Aku sudah mengerti sejak awal kita menikah bukan? Saat kau mengutarakan ingin menjadikanku yang terakhir, saat kau mengikat akad di depan penghulu itu"
Aku terdiam, aku tau tidak seharusnya bagiku yang sudah menikah menemui perempuan lain, memikirkan perempuan lain.
"Kau tau? Aku percaya sekali padamu. Tidak pernah sekalipun meragukanmu. Tidak sekalipun mencegahmu kemanapun kamu pergi. Kau tau? Aku meninggalkan semua yang telah kubangun sebelum aku menikah hanya karena kau tidak menyetujui aku mendekati teman-teman lamaku. Aku menyimpan rapat-rapat semuanya, aku membangun tembok yang tidak tertembus dengan teman-temanku sejak menikah denganmu"
Perempuan itu terisak. Ia adalah perempuan yang sama dengan perempuan lain, tidak terpisahkan dengan air mata.
"Aku, hanya merasa terbuai karena ia begitu perhatian padaku" kilahku
"Apa aku kurang perhatian padamu? Mungkin aku jarang menanyakan apakah kamu sudah makan atau belum tapi bukankah saban hari kusiapkan makanan tanpa telat? Seharusnya kamu tau, itu caraku memperhatikanmu"
Aku ternganga, tidak seharusnya aku melakukan ini padanya.
"Apa yang kau akan lakukan padaku sekarang?"
"Aku tidak ingin melakukan apapun"
"Apa kita harus bercerai?"
"Terserah padamu bukan?"
Aku hanya terdiam, rasa bersalah menumpuk-numpuk dalam dadaku.

Luwuk, 9 November 2017

Senin, 11 September 2017

Camp Penggerak : Cerita Tentang Belajar


Ketika Usia Muda waktu dan tenaga banyak uang tidak ada
Ketika Usia Mulai dewasa waktu sedikit, tenaga berkurang dan uang lumayan
Beranjak Senja banyak orang mempunyai uang, waktu semakin sedikit dan tenaga semakin berkurang

Kira-kira kutipan itu yang akan saya ingat entah di mana dan siapa yang menyampaikannya kepada saya. Akhir minggu menutup awal bulan September ini, 8-10 September saya berada di antara mahasiswa kece, dosen keren, bidan luar biasa, PNS kece, guru tangguh dan entah apalagi profesi mereka. Saya, jangan tanya perasaan saya, tidak terjelaskan. Kegiatan tersebut diberi nama Camp Penggerak yang diadakan di Sayambongin, Nambo, Banggai Sulawesi Tengah.

Sebenarnya, saya ingin menulis tentang belajar di sini. Seperti kata pepatah Belajar sampai liang lahat itu benar sekali sepertinya.  Camp Penggerak ini banyak dihadiri oleh orang yang cukup berumur dan jabatan mereka tidak tanggung-tanggung, orang yang sering menjadi pemateri ketika seminar, pemimpin rapat di kampus atau pemimpin penelitian (ada yang status dosen soalnya).

Saya belajar tentang "belajar" memang tidak membatasi usia, tidak membatasi siapa yang mengajar di depan, tidak juga membatasi di mana tempat belajar itu serta apa yang dipelajari, selama itu adalah kebaikan maka itu adalah ilmu.

Belajar Menghargai
"Belajar" lain yang saya dapatkan ketika Camp Penggerak adalah soal belajar menghargai. Menghargai kemampuan diri sendiri yang telah Tuhan titipkan, belajar menghargai kesempatan yang Tuhan telah berikan kepada kita serta belajar menghargai siapapun yang berbicara di depan kita. Pelajaran ini selalu susah dari jaman esdeh sampai sarjana, tidak cukup sks untuk mempelajarinya.


NB : Ini hanya catatan tidak jelas :D Lagi mikir mau menulis apa tentang "Camp Penggerak" Sementara mencatat ini dulu untuk belajar menulisnya. :D


Selasa, 02 Mei 2017

Kau, Aku dan racikan kopi

Senja pemersatu semesta
Gelap menjumpai rinai
Hujan yang rindu akan bumi
Hujan tertahan membiarkan kita

Aku dan kau di sana
Menculik senja agar tak berlalu
Racikan kopi yang kita bicarakan
Hingga membuatku bertekat akan tau

Katamu, hanya kau dan ibumu yang tau
Racikan kopi nikmatmu
Kataku : kau harus membaginya
Pada perempuan yang kau cintai setelah ibu

Aku tau, senja itu milik semesta
Senja dan cerita racikan kopi itu
Membuat kita merasa karib
Aku, menyimpanmu dalam doa
Dengan harapan perjumpaan selanjutnya
Adalah perpisahan kematian yang memisahkan
Agar aku tau racikan kopimu

Luwuk, 3 Mei 2017

Selasa, 21 Februari 2017

Penghuni Banggai Monsale-Pengajar Muda Banggai

Ini di Gambar Bu As
Banggai Monsale, begitulah hastag instagram yang kami gunakan untuk menunjukkan Banggai bercerita tentang pengalaman setahun di negeri Babasal ini. Kita disatukan oleh satu kata yang disebut dengan penempatan, saat ini dipimpin oleh kepala suku Mas Hari. Baiklah, karena kalian suka sekali penasaran aku dengan siapa akan kukisahkan tentang mereka menurut asumsiku, enak sekali menuliskan bukan? Kita bisa menciptakan tokoh sesuai dengan keinginan kita hehehe. Berikut penghuni dengan berbagai macam kisah yang tidak masuk akal mereka.
Mas Hari begitulah ia memannggil dirinya dan dipaksakan orang lain memanggilnya Mas Har. Apakah dia termaksud yang tua di sini? Tentu saja tidak sebenarnya meski tidak dapat dipungkiri kalau dia itu orang yang punya muka tua. Pemuda asal Jawa Timur ini selalu mengaku berasal dari Jombang tapi ketika Fun Day saat pelatihan ia menceritakan tentang perjalanan hidupnya hingga terbukalah cerita kota kelahirannya masih jauh dari Jombang (lupakan soal asal usul Mas Har yang jomblo terbuka itu, bahas yang lain saja). Sebenarnya aku tidak ingin berasumsi tentang Mas Har ini biar kuberikan gambaran tentang dirinya saja ya. Namanya Harianto Setiawan , tingginya tinggi sekali diantara semua penghuni Banggai Monsale sehingga jika butuh galah atau tongsis untuk selfie lumayan menghemat dengan menggunakan jasa Mas Har ini. Diam-diam ia punya kisah dengan Marina yang di Aceh Utara, jangan tanya kisah apa mungkin kisah yang tertunda atau bisnis pijat. Dulunya, di pelatihan ia dikenal dengan Bank Soal namun sekarang? Selain Bank Soal sebenarnya ia menggantikan Akbar yang di Natuna jadi ibu-ibu gossip kalau di sini dikenal dengan ratunya susupo. Susupo ini berarti gossip dalam bahasa saluan, Mas Har mendedikasikan dirinya secara penuh untuk susupo, ia tidak mau ketinggalan meski sedetik dan separagrafpun soal susupo ini. Meski ingusan (saat flu) ia juga ikut di barisan paling depan untuk susupo. Mas Har ditempatkan di lingkungan orang non Muslim, Desa Solan.
Mas Har selalu foto pura-pura bahagia
Jika ingin mendengar cerita gaib dan segala sesuatu tentang mahluk gaib bisa menghubungi Mak Ilin, sebenarnya nama asli saat potong ayam ketika masih bayi merah adalah Siti Nurfazlina namun saran terbaik jangan memanggilnya siti atau resikonya tanggung sendiri. Aku memanggilnya Kak Ilin, ia teman satu DA Indonesia Mengajar waktu di Medan sudah kuceritakan sedikit tentangnya dulu bukan? Saat ini dengan panggilan “Mak Ilin” ia sudah punya anak sebanyak 42 orang selain PM XIII, Officer IM ditambah sekarang relawan di Banggai baik dari Penyala Banggai maupun Relawan Oke. Sebagai Emak seolah ada kewajiban untuk masak, inilah keahlian paling dirindukan oleh PM XIII tentang kak Ilin, masakan yang enak bahkan soal masak memasak ini ia sudah terkenal di kalangan relawan selain sikapnya yang keibuan itu. Meski dalam kamusku ia orang yang paling banyak berteriak padaku, tidak apa-apa aku memaklumi meski kadang harus ingusan untuk bisa paham (aku sedang flu teman-teman) ia lelah sekali mengajari anaknya masak sampai airpun hangus direbus jadi wajar jika marah-marah dan gagal focus. Kak Ilin ini ditempatkan di Sinorang, daerah yang sinyalnya berlimpah dan cerita mistiknya meluap.
Masih yang tercantik Kak Ilin ini
Bu As, penggambar terbaik di Banggai Monsale dan tidak mau ketinggalan jika Qadry yang penempatan di Aceh Utara sudah mengapload foto maka ia juga akan menggambar dengan segenap daya upaya, berjuang sampai berdarah-darah melawan rasa malas geraknya untuk menggambar cerita Banggai sebagai unjuk kompetitif. Nama lengkapnya Asri Sudarmiati asal dari Cimahi, penempatan di Ampera. Soal Ampera, jika mau minuman cap tikus katanya di produksi di sini, jika hendak merasakan nikmatnya kopi Ampera segera keluarkan uang 400 ribu untuk sebuah kenikmatan tiada tara itu, begitupun jika ingin melihat bintang serasa di galaksi datanglah ke Ampera. Baiklah kembali ke Bu As, ia bendahara di Banggai Monsale punya hubungan gelap dengan yang di Nunukan dan Aceh Utara. Pernah satu kali ketika semua orang di chat dari nunukan perihal sakitnya Bu As sehingga ia dibully semampu si tukang bully. Bu As ini punya pesona magnet dan menarik orang dengan cara yang lembut sehingga tidak heran ia ditaksir pemuda desa. Saranku untuk keselamatan perasaan kalian jangan berbicara dengannya ketika ia sedang memegang handphone karena ia sudah tidak di dunia lagi saat itu pasti kalian akan dicuekin atau minimal menjadi panggilan tak terjawab sehingga menimbulkan baper dan dosisnya akan menyebabkan jantung kronis (loh?).
Bu As selalu foto dengan ceria, pura-pura bahagia dia
Destina, perempuan sunda yang angkatannya termuda diantara kita semua dan merupakan anak Mak Ilin paling mahal untuk dijual bernama lengkap Destina Ratna A. K. K. Sebulan di Banggai, ia sudah diberi cobaan menolak mobil di malam gulita untuk mengantar Bude (Housefam selama di Banggai) karena sakit lalu sehari lalu 29 Desember 2016 ia harus menyaksikan pemakaman Budenya. Cobaan hanya datang pada bahu yang mampu menanggungnya, untuk pemakai rompi pertama IM dan juga pelari lima putaran setiap olahraga pagi ketika pelatihan Destina layak diacungi jempol untuk ketabahannya. Ia tidak banyak berbicara hanya bekerja saja sehingga ketika ia lelah bekerja rautnya akan meneriakkannya, ia selalu ingin menjadi superhero disetiap tindakannya. Ia ditempatkan di Batui lima, daerah gunung yang panas.
Teman Berantem dan teman cerita tentang kelas V- Sipositif
Kak Iin, perempuan Batak yang bernama bagus Indah Alsita Simagunsong ini fotografer terbaik di Banggai Monsale. Jangan memanggilnya Indah atau terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya meski tidak separah yang dipanggil “siti” mungkin cukup menjadi bencana. Nah, kak Iin ini orang paling perhatian padaku dari semua orang yang di Banggai Monsale, jangan laporkan kesusahan padanya atau kau akan menyusahkannya. Ia bergerak cepat sekali untuk membantu meski hanya membantu temenin ke kamar mandi ketika jam 1 malam. Ia ditempatkan di Tompotika Makmur, sebuah desa yang dihuni oleh orang bali sehingga terasa seperti Banggai rasa Bali dengan pura-pura indah di sana.
Kakak yang sejak Champ kuikuti karena kacamatanya-IIN
Spc Ondol-Ondolu, itulah Desa penempatan Abang Timor Pengembara. Ia orang Sumatera, tepatnya di Lampung jadi aku memanggilnya “Abang” biar ada perbedaan sebenarnya. Ia menjadi pawangnya anggun (motor warisan PM sebelumnya), motor yang sering dibawa pacal (tarik tiga) jika sedang di Luwuk. Abang ini juga punya hubungan samar-samar dengan yang di Natuna. Tidak banyak yang ingin diceritakan tentangnya soalnya orangnya random gitu, kadang menjadi baik tidak tentu arah, tidak jarang jadi orang terkejam sejagat.
Abang dari Lampung-Timor
Kembaran tidak jelas namanya Jusfandi Nicolas dicampakkan di Lobu. Jangan dekat jika ia sedang sakit mata, ia akan memakai kaca mata terbaiknya dan juga jangan mengajaknya karoeke karena ia sedang tergila-gila pada lagu selimut tetangga. Ia pernah diberi uang oleh relawan karena menjadi juri dan dengan jiwa besar idealis full sampai sakit mata ia menolak uang itu, dikembalikan lagi pada si pemberi. Lagi, ia bukan orang yang layak diajak bicara saat dia sedang memengang handphone atau sedang focus dengan kerjaannya.
Kembaran gak jelas, minta ada panggilan. Panggil Oppa atau Ajumma ya?

Inilah cerita dalam kenal, perkenalanan dengan penghuni bangsal Banggai Monsale. Seperti bintang, andai sinarnya masih untuk aku, seperti ombak, debar jantungku setiap melihat mereka berkembang menjadi orang hebat yang berguna bagi agama dan bangsa, tumbuh dengan amat membanggakan sepertiku yang terus belajar dari mereka (ini bagian kehabisan ide, hingga endingnya dipaksakan)

Ini aku, pelengkap saja dalam cerita ini seperti S.P.O.K dalam bahasa Indonesia agar menjadi kalimat sempurna.
Aku, Nita Juniarti yang hobi kesal sendiri jika melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan fikiranku. Aku yang belajar banyak dari 7 penghuni Banggai Monsale lain dan mengajar di SDN 2 Inpres Baya, sebenarnya bukan mengajar sih baru belajar dan mencoba berbagi pada anak yang usianya 13 tahun muda dariku, belajar menikmati film masa lalu dari mereka.
Semangat untuk semua Pengajar Muda di Seluruh Indonesia :) doaku masih untuk 32 orang lain di kabupaten Aceh Utara, Nunukan, Natuna, dan Pergunungan Bintang.

Sabtu, 11 Februari 2017

All About Them

Setelah Pelajaran IPS ini kami.

Kesempatan yang diberikan Allah setahun ini sungguh tidak terkira, tercatat sebagai satu dari 40 Pengajar Muda XIII. Berpetualang di Sulawesi Tengah, tersangkut di Desa Baya. Entah nanti Cinta akan tertinggal di sini. Melihat seseorang yang begitu setia pada pendidikan, mengajar dengan bayaran rendah lalu melihat anak-anak yang harus menempuh hutan, sungai untuk ke sebuah gedung yang disebut dengan sekolah.
Wali kelas V dengan panggilan Enci Nita. Saya berkenalan dengan 18 Anak Istimewa dengan segala tingkah seumuran mereka. murid-murid kerenku. Inilah mereka....

Reva Indira
Reva Indira, soal bergaya dan jadi kece kasih untuk dia. Model ini mah.

Dia cukup populer di kelas setidaknya gelas impiannya selalu penuh dengan surat-surat. 

https://www.instagram.com/p/BQEhlTpgsho/

Cantika Labaso
Cantika Labaso, anak kuat setelah ditinggal mamaknya. Tiga hari kemudian dia langsung ke sekolah dan bisa tertawa lagi dengan teman-temannya. 
https://www.instagram.com/p/BQEgotkA5n5/
M.Fahri Paelu
Muhammad Fahri Paelu, bercita-cita jadi tentara. Ari, begitulah ia dipanggil darinya aku belajar sabar dan cara menghormati guru. Kadang aku kaget sendiri karena ia datang ke rumah meski mati lampu, ia salah satu dari Laskar Saluan yang datang membaca setiap Jam satu siang. Sebenarnya aku sedang galau metode apa yang akan kuberikan padanya agar ia lulus di kelas tambahan.

Ari pintar menyanyi dan ia sering sekali tersenyum. Spesialnya ia selalu perhatian dan bertanya kabar.

https://www.instagram.com/p/BQER6QmA9_A/

Vigo

Laki-laki terapi di kelas 5. Vigo Arianti begitulah ia dinamai. Panggilannya Vigo. Anak yang jauh-jauh datang ke rumah ketika malam cuma bertanya "Enci, mangaji sabantar?" Ia akan mewakili desanya untuk Mtq tingkat kabupaten dan ia akan ikut olimpiade juga nanti. Keren sekali bukan? sekecil ini kegiatan membanggakan. Ia orang yang selalu menawarkan bantuan pada saya. "Enci, saya mau bantu" setiap melihat saya bekerja.

https://www.instagram.com/p/BP7DcJwgFSO/
Nabila Djalamang
Nabila Djalamang, perempuan ayu ini salah satu murid kelas lima yang hanya ada beberapa perempuannya. Ia yang memotivasi saya nenulis surat untuk orangtua karena pengaduannya. Ia anak yang pintar, bekerja keras dan ia cantik. Saya suka suara bagusnya :D 
https://www.instagram.com/p/BP6jewIAt8I/

Rusiana Ponggawa/ Inong


Soal membalas surat dari Cina, Surabaya sampai menulis karangan liburan serta menyambet prediket jurnal terkeren bulan ini silahkan berikan padanya. gadis manis ini dipanggil Inong tapi namanya Rusiana Ponggawa, ia cantik, baik dan selalu ceria.

https://www.instagram.com/p/BP7CfpLA7ue/
Syahrul Said Salim
Namanya Rul lengkapnya Syahrul Said Salim. Ia paling pendiam di kelas kami. Ia Selalu tersenyum jika ditanya. Beberapa kali ia kedapatan menulis nama Kak Serty. Saya senang belajar Ips dengan enci Serty padahal waktu itu yang masuk kelas jelas saya. Keseringan menyenbut nama sampai saya bertanya "Rul, tau nama Enci??" dan ia kembali tersenyum.

Sekarang Rul tidak salah lagi menyebut nama.

https://www.instagram.com/p/BP7Bob3g70n/
Angga
Namanya Erlangga Daeng Bado, orang terkeren dan terganteng di kelas kami. Setidaknya begitu pendapat teman-temannya.

Ketika saya bertanya "Kita akan buat struktur kelas, siapa ketua kelasnga?" Mereka langsung menunjuk Angga bahkan ketika saya mengusulkan diganti tetap Angga. "Angga saja Enci, dia keren" ujar Putra.
Banyak perempuan yang meliriknya, diam-diam menitip salam atau bertanya tentang Angga ini. 

https://www.instagram.com/p/BP6IN-wgFD4/
Pujal Tandani
Pujal Tandani anak pantang menyerah dalam keadaan apapun. Kerja keras dalam segala hal dan kompetitif mengerjakan soal matematika. Ia suka matematika. Pujal ini ingin belajar mengaji bahkan ketika mati lampu ia datang ke rumah. "Enci, tidak mangaji malam ini? tapi saya so tidak ada iqro"
https://www.instagram.com/p/BP3hGKcAq5i/
Ikram Hidayah
Ikram Hidayah Salaka dipanggil Ikram. Ia selalu bertanya padaku "enci, halaman berapa lagi harus dibaca?" setiap selesai tugas membaca yang aku berikan. Ia juga anggota Laskar Saluan, meski jarang datang.

Suatu ketika ia tidak datang ke sekolah karena diajak Ayahnya ke Luwuk, pagi benar ia datang ke rumah tempat tinggalku. "Enci saya tidak masuk sekolah tiga hari ya. Mau ke Luwuk" sampai Ayahnya memberitahuku "Ikram itu Enci, tidak mau meninggalkan sekolah tanpa alasan". Cita-citanya menjadi tentara.

https://www.instagram.com/p/BP3gn2jgTPs/
Mail
Namanya Muhammad Ismail U.Timpo. Sa─║ah satu muridku yang datang ke sekolah harus melewati Kuala(Sungai) sehingga jika musim hujan terpaksa memakai sendal. Akhir-akhir ini, ia sering curhat dan berujar "Enci, saya tidak telat hari ini kan? cepat saya menyimpan karena saya tau enci pasti cepat datang ke sekolah". Di lain waktu ia mendatangiku dan berkata "Enci, kata Mamak terima kasih sudah mengajar torang".

Ia selalu bersemangat menyelesaikan tugas resensi.
Mail mau jadi Penyanyi, ia punya suara bagus sekali.

https://www.instagram.com/p/BP3f6GQgDAK/
Putra
Laskar Saluan selanjutnya namanya M.Putra Djanun. panggilannya Putra, ia orang paling disegani dalam gengnya dan banyak anak perempuan diam-diam mengirim surat padanya.

"Kak Nita, saya suka mendengar dari pada belajar dan ingin jadi pembalap" Itu alasannya setiap kali saya ajak dia membaca.
Kebetulan ia adik Angkat saya jadi ia memanggil "kak". Putra ini anak yang suka bercerita dan mendengar, setiap hari di rumah sebelum tidur ia akan bercerita tentang sekolah. Ketika selesai belajar tentang Magnet, putra bercerita pada mamak di rumah "Mak, ada Magnet tadi, jika sama kutubnya dia tidak bertindis". Ia bercerita banyak tentang sekolah, guru, teman dan kegiatan di sekolah.
Meski ia suka tereng kalo diajak membaca tapi ia tidak pernah menolak.

https://www.instagram.com/p/BPyl7GmgeyO/
Nila
Nia Nabila G. Akase. Jangan kaget jika ia dipanggil Nila. Dia salah satu penulis cilik di kelasku. Baru-baru ini ia mendapat penghargaan Jurnal Harian terkeren, ia memakai mendali yang saya buat sampai seharian. Foto ini saya ambil saat ia sedang membuat puisi untuk rumah karya kami. Nila juga menulis surat romantis untukku dan balasan surat keren untuk Bang Fauzan. Meski pendiam, nila pengamat yang baik serta anaknya patuh.

Ia rajin datang ke kelas Osk padahal ia tidak ikut.

https://www.instagram.com/p/BPyj4AYgZSk/
Agi
Alghifari Pajampo dipanggil Agi. Ia anak yang sekarang hampir ahli menjadi "dokter kecil" di sekolah kami. Meski ia tidak ingin jadi dokter. Selain ketua keamanan, Agi kuberitahu cara mengobati luka ringan temannya dari membersihkan luka sampai memberi obat merah. Jika ada teman yang terjatuh dan luka sekarang agi yang bertugas mengobatinya.

Ia sangat malu jika saya ikut pinasa (memungut sampah sebelum masuk kelas) ia selalu berseru "enci, jangan ikut pinasa. Biar kami saja." lalu ia berseru pada teman-temannya untuk Pinasa.
Foto ini diambil saat Agi berlari ke mejaku ingin membacakan tentang peristiwa Tsunami.

https://www.instagram.com/p/BPyignmgdDE/
Amat
Rahmat Alap panggilannya Amat. Saya sering tertukar antara ia dan Anang, abis mereka mirip.

Ia juga Laskar Saluan. Semangat belajar membaca meskipun nanti berujar "ibih enci, banyak sekali yang harus dibaca" jika saya memberi ia satu buku baru. Amad menyukai buku Teka-Teki Aurora, ia lebih sering membaca buku itu dari pada buku lainnya.

https://www.instagram.com/p/BPyh1J_gTfA/
Candra
Kenalin ini namanya Chandra, dia suka matematika. Hadiah yang ia sukai buku matematika. Ia pintar matematika. Foto ini saya ambil saat membaca pagi sebelum belajar. Ia bersitegang dengan saya tentang sebuah gambar "ini udang enci" padahal itu kepiting, jelas-jelas ada Capitnya. Ia berteman akrab dengan Firman. Saat kakinya sakit, Firman menggendongnya ke sana-ke mari.

Candra suka sekali membantu, ketika membuat rumah karya ia bahkan menunggu lalu meminta ia yang memasang pembatasnya.

https://www.instagram.com/p/BPyhRpBgHWB/
Firman Djanun

Kenalin, ini namanya Firman Djanun. Awal mendengar namanya aku sempat bertanya pada ibu angkatku "apakah punya hubungan saudara? karena nama belakangnya sama" biasanya orang-orang di sini memakai nama keluarga dibelakang namanya. Ternyata masih terhitung sepupu.
Firman ini salah satu dari Laskar saluan juga, meski ia sudah bisa mengeja tapi ketika membaca award masih jadi pangeran baca akhirnya ia tergabung dalam pasukan saluan.
Firman pintar sekali matematika. Di kelas, setiap diberi soal matematika ia cepat menyelesaikannya. Kalau tidak mengerti ia datang bertanya "enci, ini dari mana datangnya?" .
Firman juga anak yang sangay loyal pada teman dan setia.
Ia setiap pulang sekolah bertanya "enci, ada babaca?" ia juga yang jika teman-teman sudah masuk kelas dan saya sudah di kelas ia akan bertanya "enci, saya telat??" Ketika latihan lagu gugur bunga matanya berkaca-kaca.

https://www.instagram.com/p/BPygn9KAfD3/
Anang

Kenalin, ia dipanggil Anang (tapi dia tidak punya cita-cita jadi artis ya). Nama betulnya(anak-anak menyebut nama lengkap mereka dengan ini) Maulana Al Fahrisi. Dia satu dari laskar Saluan (celana) yang datang membaca setiap hari. Cita-citanya ingin menjadi polisi.
Sebenarnya ini tulisan ngak jelas, cuma dicoba jelaskan saja.
Anang, setelah saya kirim surat padanya, ia membalas surat saya dan berjanji akan lebih sopan pada guru manapun. Menariknya setelah surat itu, setiap hari ia mengambil buku saya, memangkunya lalu mengantar ke rumah meski saya menolak, ia selalu berkata "enci capek, rumah jauh." Jurnal hariannya juga sudah berisi kata "maaf" dan menceritakan hal yang ia suka dan tidak.
Aku sudah bilangkan? aku percaya surat bisa merubah prilaku.

https://www.instagram.com/p/BPt3R6DAbCE/

Senin, 30 Januari 2017

8 Mili Meter


Pernah menonton film 5 cm? orang-orang yang ada di lingkungan positif dan bersahabat selama 10 tahun itu. Nah, ini Banggai Monsale berisi orang-orang nekad dengan modal semangat dan tubuh sedikit kuat mencoba pendakian meski tidak seperti gunung Sumeru tapi tanpa persiapan yang bisa saja meluncur ke jurang dan mati aku menamai perjalanan ke Pulau Dua kecamatan Balantak Selatan itu adalah perjalanan delapan mili meter.
            Kami berdelapan, seperti yang kuceritakan di awal. Mas Har orang yang berbadan besar dan sering naik gunung menjadi buddy bagi beberapa orang tapi jangan bicara dengannya jika ia sedang focus merekam video ia akan mencuekkanmu sampai kamu beku. Kak Ilin, orang yang selalu berfikir nanti kalau saya jatuh semua orang akan jatuh beruntun bahkan sudah memikirkan hal yang lebih jauh lagi dari pada itu. Kak Iin meski ia belum tentu bisa menyelamatkan orang yang jatuh ia selalu berusaha berteriak memberi semangat untuk yang lain. Nico dalam pendakian ini ia berusaha menjaga garis belakang meski matanya memerah dan ia memakai kaca mata keren ketika mendaki. Timor, ia hanya membiarkan orang lain mandiri lalu sesekali berujar focus, perhatikan pijakan. Bu As masih mandiri sendirinya meski ia memilih mendaki di depan takut di tinggal, Destin meski badannya kecil ia punya fisik yang luar biasa ketika camp saja ia bisa lari lima putaran. Lalu satu lagi, aku? Berusaha agar orang tidak berteriak padaku meski memberi semangat, menolong diriku sendiri dan banyak sekali mengucapkan nama Allah serta berfikir aku bisa saja mati terpeleset bahkan memikirkan jika jatuh berapa kemungkinan aku akan hidup.
            Ketika kami sampai di puncak, kami sadar sekali Banggai benar-benar diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, indah sekali. Susunan pantai dan perbatan dengan payau terlihat asik dari ketinggian. Sejauh ini kami sampai ke sana atas anugerah Tuhan dan modal nekat yang tiada terkira serta menyakini bahwa kita bisa dan kita akan ke tempat itu, tempat yang tidak akan pernah kita lupakan seumur hidup kita. Beberapa kali kami memegang suatu batu dan batu itu roboh, longsor begitu hingga sampai ke puncak dan saat turunnya bahkan lebih parah. Rencana kami yang buruk itu membuat kami haus tidak terkira, air habis sampai ketika di bawah kami harus meminta pada orang yang sedang merayakan ulang tahun di Pulau dua. Kami diberi tiga air dan satu potong kue namun itu tidak menghilangkan haus. Aku sampai bolak-balik dari satu bangunan ke bangunan lain mencari air sangking hausnya.
“Nita…Nita…” Destin dan Bu As berteriak kencang
            Aku yang sudah tergeletak tidak berdaya sambil terus berdoa semoga turun hujan biar haus teratasi. Aku bangun lalu melihat ke arah Ranto yang berlari membawa dua botol besar air.
“Dapat di mana?” tanyaku setelah minum
“Ambil dari kebun orang yang dibawa dari Desa”
Blep, hatiku berdesir semoga Allah menghalalkan minuman ini buatku.
            Pendakian kami mungkin tidak sedramatis 5 Cm yang kejatuhan batu dan ada adegan harunya tapi pendakian ini memberikan kami pelajaran untuk tidak meremehkan sekecil apapun rencana meski itu hanya liburan. Kami mungkin tidak menyatakan ini sebuah kehormatan karena mendaki puncak pulau dua Sulawesi Tengah yang tidak ada apa-apanya tapi janji di gunung Burangrang saat pelantikan Pengajar Muda sedikit mengigatkan kami bahwa kami ada untuk Ibu Pertiwi. Sebuah tekat nekad sudah membuat kami ada di sana, menyaksikan sepotong kisah Banggai Sulawesi Tengah, kami membawa tekat nekad kami di delapan mili meter harapan kami hingga sampai ke Puncak dan turun lagi kemudian mengalami badai saat di tengah laut. Ketakutan bercampur nekad masih tersisa hingga kami sampai dengan selamat di pinggir pantai setelah mengalami badai di tengah laut. Setelah ini kami akan terus berjuang mempertangung jawabkan impian kami tentu saja dengan kenekatan yang penuh perencanaan tidak seperti ke Pulau Dua itu. Semoga.


*Baya Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Bangai,  04 Januari 2017