bintang

Rabu, 05 Desember 2012

makalah hadits tentang etos kerja


ETOS KERJA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA                                             : NONI PURNAMASARI
NIM                                                 : 511102495
DOSEN PEMBIMBING                : LISMIJAR MA
FAKULTAS ADAB INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IAIN AR-RANIRY
BANDA ACEH
2012
KATA PENGANTAR
            Alhamdulillah, berkat nikmat Allah dan segala yang di limpahkan kepada Saya sehingga Saya dapat menyelesaikan makalah ini dan berkat  bantuan dari berbagai pihak sehingga makalah ini dapat di selesaikan. Adapun tujuan makalah ini di buat adalah tidak lain dan tidak bukan untuk melengkapi tugas makalah dalam mata Hadits semester 3  di Jurusan Adab Sejarah Kebudayaan.
            Ucapan terima kasih kepada Dosen pembimbing yang telah mengajarkan Saya untuk mengerjakan tugas tepat waktu dan menyelesaikannya.
            Akhir kata, kritik dan saran sangat di harapkan untuk perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Terima kasih.

Penyusun



 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  i
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  … .ii
BAB I PENDAHULUAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . .1
BAB II PEMBAHASAN
A.    PEKERJAAN YANG PALING BAIK. . . . . . . . . . . . . . . . . …………...........3
1.      TEKS AYAT
2.      TERJEMAHAN
3.      PENJELASAN
4.      KESIMPULAN
B.     LARANGAN MEMINTA-MINTA . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ……… 4
1.      TEKS AYAT
2.      TERJEMAHAN
3.      PENJELASAN
4.      KESIMPULAN
C.     MUKMIN YANG KUAT DAPAT PUJIAN. . . . . . . . . . . . . . . . . ……….......5
1.      TEKS AYAT
2.      TERJEMAHAN
3.      PENJELASAN
4.      KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

 BAB I
PENDAHULUAN
            Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi atau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya (Khasanah, 2004:8).[1]
Menurut Gregory (2003) sejarah membuktikan negara yang dewasa ini menjadi negara maju, dan terus berpacu dengan teknologi/informasi tinggi pada dasarnya dimulai dengan suatu etos kerja yang sangat kuat untuk berhasil. Maka tidak dapat diabaikan etos kerja merupakan bagian yang patut menjadi perhatian dalam keberhasilan suatu perusahaan, perusahaan besar dan terkenal telah membuktikan bahwa etos kerja yang militan menjadi salah satu dampak keberhasilan perusahaannya. Etos kerja seseorang erat kaitannya dengan kepribadian, perilaku, dan karakternya. Setiap orang memiliki internal being yang merumuskan siapa dia. Selanjutnya internal being menetapkan respon, atau reaksi terhadap tuntutan external. Respon internal being terhadap tuntutan external dunia kerja menetapkan etos kerja seseorang (Siregar, 2000 : 25)
Menurut Geertz (1982:3) Etos adalah sikap yang mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Sikap disini digambarkan sebagai prinsip masing-masing individu yang sudah menjadi keyakinannya dalam mengambil keputusan .
Menurut kamus Webster, etos didefinisikan sebagai keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok, atau sebuah institusi (guiding beliefs of a person, group or institution).
Jadi, Etos kerja dapat diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas (Sinamo, 2003,2).



Etos kerja berhubungan dengan beberapa hal penting seperti:
a.       Orientasi ke masa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik, baik waktu, kondisi untuk ke depan agar lebih baik dari kemarin.
b.      Menghargai waktu dengan adanya disiplin waktu merupakan hal yang sangat penting guna efesien dan efektivitas bekerja.
c.       Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.
d.      Hemat dan sederhana, yaitu sesuatu yang berbeda dengan hidup boros, sehingga bagaimana pengeluaran itu bermanfaat untuk kedepan.
e.       Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar pekerjaan yang dilakukan tidak mudah patah semangat dan menambah kreativitas diri.

Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu sebagai seorang pengusaha atau manajer. Menurut A. Tabrani Rusyan, (1989) fungsi etos kerja adalah:
a.       pendorang timbulnya perbuatan
b.      penggairah dalam aktivitas
c.       penggerak, seperti; mesin bagi mobil, maka besar kecilnya motivasi yang akan menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.


etos kerja di akses tanggal 07 November 2012
 BAB II
PEMBAHASAN
A.    PEKERJAAN YANG PALING BAIK
1.      Teks Hadist










2.      Terjemahan Hadist
“Dari Rifa’ah Ibnu Rafi’ r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya: Pekerjaan apakah yang paling baik?. Beliau bersabda: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih”. (HR Al-Bazzar dan dishahihkan oleh al-Hakim)[1]
3.      Penjelasan Hadist
Dari hadist di atas dapat kita lihat bahwa Islam sangat menghargai kerja keras, kreatifitas maupun inovasi yang dihasilkan melalui tangan seseorang dalam melakukan pekerjaan. Islam juga mengharuskan setiap pekerjaan dilakukan secara mabrur, yakni dilakukan dengan kejujuran, kejelasan dan sesuai dengan syariat. Dan pekerjaan paling mulia menurut hadist ini adalah jual beli karena jual beli adalah ajang untuk mengetahui karakter manusia, saat orang melakukan transaksi jual beli disana terlihat Dia seorag yang rakus, ikhlas dan lain-lain. Islam juga mengajurkan agar dalam memenuhi kebutuhan hidup umatnya di tuntut memakai jalan terbaik.
4.      Kesimpulan
Islam adalah agama yang indah, apapun di atur dalam islam sampai-sampai pekerjaan
sepele  seperti buang hajat. Dalam islam jual beli, pekerjaan juga di atur tinggal kita saja yang mengaplikasikan bagaimana.
B.     Larangan Meminta-Minta
1)      Teks Hadits







2)      Terjemahan Hadist
“Ibnu Umar R.a berkata : ketika Nabi SAW bekotbah di atas mimbar dan menyembut sedekah dan meminta-minta, beliau bersabda : tangan diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah dan dahulukan keluargamu dan sebaik-baik sedekah itu dari kekayaan maka Allah mencukupinya, demikian siapa yang beriman merasa cukup maka Allah membantu memberinya kekayaan.”(HR. Bukhari)[2]
3)      Penjelasan Hadist
Sungguh, meminta-minta tidaklah dibenarkan kecuali bagi 3 orang, orang miskin yang sangat membutuhkan atau orang yang berutang banyak atau orang yang terbebani oleh kebutuhan. Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain.
Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’   Maka kita di larang meminta-minta.
C.     Mukmin yang Kuat mendapat pujian
1.      Teks Hadist
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى
مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا
وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


2.      Terjemahan
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, "Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain." Akan tetapi katakanlah, "Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat." Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan." (HR. Muslim)[3]
3.      penjelasan hadist
Yang dimaksud dengan mukmin yang kuat di sini adalah mukmin yang kuat imannya. Bukan yang dimaksudkan dengan kuat di sini adalah mukmin yang kuat badannya. Karena kuatnya badan biasanya akan menimbulkan bahaya jika kekuatan tersebut digunakan dalam hal maksiat. Namun pada asalnya, kuat badan tidak mesti terpuji dan juga tidak mesti tercela. Jika kekuatan tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat, maka pada saat ini terpuji. Namun jika sebaliknya, digunakan dalam perbuatan maksiat kepada Allah, maka pada saat inilah tercela. Jadi, yang dimaksudkan kuat di sini adalah kuatnya iman. Kita dapat saja menyebut seorang itu kuat, maksudnya adalah dia perkasa dengan kejantanannya. Begitu pula kita dapat menyebut kuat dalam masalah iman. Yang dimaksud dengan kuatnya iman di sini adalah seseorang mampu melaksanakan kewajiban dan dia menyempurnakannya pula dengan amalan sunnah. Sedangkan seorang mukmin yang lemah imannya kadangkala tidak melaksanakan kewajiban dan enggan meninggalkan yang haram. Orang seperti inilah yang memiliki kekurangan.
4.      Kesimpulan
Orang mukmin yang kuat dalam beriman, badan dan kekayaan lebih di cintai oleh Allah karena dengan demikian Ia lebih banyak memamfaatkan waktunya untuk beraktifitas yang member mamfaat kepada orang lain. Berandai-andai tidak di benarkan karena bisa mendahului kehendak Allah dan ini sangat sama dengan perbuatan setan yang selalu melakukan pengandaian dan sangat tidak bersyukur dengan apa yang telah di karuniai oleh Allah.


[1] syafe’i, Rachmat.2000. Al-Hadits. Bandungr:  Setia Pustaka halaman 113

[2] syafe’i, Rachmat.2000. Al-Hadits. Bandungr:  Setia Pustaka halaman 119-120
[3] syafe’i, Rachmat.2000. Al-Hadits. Bandungr:  Setia Pustaka halaman 126
 DAFTAR PUSTAKA
syafe’i, Rachmat.2000. Al-Hadits. Bandungr:  Setia Pustaka
Rahmat syafe’i, Prof.DR.H. Buku Al-Hadis, Aqidah, Akhlak, Sosial, dan Hukum : pustaka setia.
etos kerja di akses tanggal 7 November 2012
Tulisan ini merupakan resume kajian Ramadhan di Masjid Al Amanah, Selasa, 16 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar