Persimpangan
Perempuan itu belum tidur, ia khawatir kekasihnya dalam perjalanan.
"kau sudah sampai? Aman?"
Tidak ada jawaban
Satu jam
Dua jam
Dua jam setengah
Aku sudah sampai dan ingin istirahat
Sebuah pesan masuk ke Handphonenya. Perempuan itu lega, kekasihnya selamat sampai tujuan.
Ra, aku sudah sampai dan ingin istirahat
Laki-laki itu mengirimkan pesan yang sama pada perempuan lain.
Ia tidur, tidak mengubris apapun.
Perempuan itu tidak bisa tidur, iseng ia mencari sebuah nama di instagram dan memantaunya. Postingan terakhir 18 jam yang lalu dengan lokasi "tebet". Perempuan itu berusaha menganalisis, melihat lagi stories kekasihnya sama persis. Ia kembali menscroll aku perempuan itu, kembali status-statusnya berisi kalimat ambigu.
Jangan cepat mengambil keputusan terhadap yang kamu rasakan
Hampir semua kalimat berakhiran "Zi". Ia tercenung, imajinasinya liar. Ia berprasangka bahwa itu kekasihnya.
Pagi tiba, 10 November hari pahlawan.
"Zi, aku ingin bicara"
"apa?"
"berapa emosimu? 1-10"
"12"
"oke, apa kau mengirimi Ra foto? Mengirimi dia puisi?"
"ya"
"baiklah"
"kau cemburukan?"
"iya, aku sedang memganalisis situasi Ama. Mantan kekasihmu sebelum denganku, kufikir cukup adil ketika dia melabrakku karena cemburu atas sikapmu yang lebih romantis padaku yang waktu itu teman cerita dari pada denganya"
"aku paham arah pembicaraanmu"
"iya, aku cemburu dan ingin menuduhmu berselingkuh."
"aku sayang kau, dia hanya teman diskusi"
"hahaha. Sekarang aku memang tak pantas lagi jadi teman diskusimu ya?"
"bukan begitu, kau tak pernah masuk dalam pembicaraan setiap kuajak ngobrol"
"hahaha, aku tidak akan melakukan yang Ama lakukan kak, tapi aku cuma mau menegaskan padamu bahwa aku punya banyak lelaki lain yang bisa kuajak menikah tapi bodohnya aku masih memperjuangkan kau yang bahkan belum bisa memperjelas hubungan ini dan juga sekarang mulai mendekati perempuan lain untuk kau jadikan teman cerita, kau benar-benar tak pernah puas!"
"sudah selesai?"
"ya"
"apa maumu?"
"hahaha pasti itu, apa kau fikir aku akan meninggalkan kau? Tidak! Aku bahkan tidak akan melepaskanmu seperti itu saja padanya"
"makasih udah sesayang ini padaku"
Perempuan itu berlalu, ia punya rencananya sendiri. Ra menunggu Zi, mereka bertemu. Na, kekasih Zi sudah tau perihal itu. Ra dan Zi berdiskusi dan terlihat bahagia. Na menghampiri mereka.
"boleh aku bergabung?"
Ra salah tingkah, Zi kaget bukan kepalang.
"silahkan dek" ujar Zi akhirnya
Suasana hening, tidak ada lagi diskusi.
"apa aku terlalu tidak pintar untuk masuk dalam obrolan kalian? Atau aku mengganggu agenda pribadi?"
"eh...sebetulnya..." Ra salah tingkah
" Dengar Ra, aku tidak akan melepaskan Zi begitu saja padamu. Aku sudah pernah dilamar laki-laki lain dan aku menolaknya, aku sudah menunggu Zi dari dia penggangguran hingga keren begini. Aku kira semudah itu mendampingi dari nol?"
Ra gagap, belum pernah ia bertemu perempuan segamlang ini.
"aku, melepaskan detik ini juga jika Zi yang memberi keputusan"
"Aku...aku..." Zi lebih gagap, ia sungguh paham Na, dia tak pernah main-main dengan ucapannya.
"Jadi, gimana Zi?"
"berikan waktu aku berfikir"
"berapa lama?"
"sebentar"
Na menunggu, ia tenang dan terlihat berkelas.
"Na, sudah lama?" seorang lelaki menyapanya
"hai, lumayan nih"
"kau ini, hobinya hilang-hilang, kucariin"
"hehehe, aku ada urusan Li"
Li mengangkat bahu, kemudian menatap Ra dan Zi.
"jadi, itu kekasih yang kau perjuangkan sampai menolakku?" Li tertawa
"hust, jangan bercanda begitu"
"baiklah, siapa namamu?"
"Zi"
"Dengar Zi, alangkah bodohnya kau ketika kau merasa harus menceritakan persoalanmu kepada perempuan lain, sementara Na punya banyak hal yang harus kau gali darinya. Setahuku, dia paling keren soal pekerjaan. Barangkali dia bukan psikolog, tapi dia perempuan paling tegar mendengar nyiyiranku soal pekerjaan. Dan kau harusnya beruntung diperjuangkannya"
Li berhenti, matanya nelangsa.
Zi kaget, kenapa jadi begini? Ia tak menyangka.
"kau berlebihan Li. Aku tidak sekeren itu apalagi di mata Zi, aku bahkan tidak pernah diajak mengobrol soal kendala pekerjaannya, aku tak pantas tau"
Na terluka, andai Zi tau ia berusaha banyak untuk memahaminya, ia belajar banyak untuk menyetarakan obrolan dengan Zi. Memang terlihat sia-sia namun Na tau, lelaki itu barangkali tidak pantas mendapatkan banyak hal darinya.
"jodoh itu memang siapa yang bertahan dengan kita, kuharap suatu hari ada perempuan cukup tahan dengan sikapmu, jadi bagaimana? Kau mau kupertahankan atau kutinggalkan?" Na tegas bertanya
"eh, kumohon bertahanlah denganku"
Ra bangkit dari duduknya, tanpa sepatah katapun ia pamit. Li tidak melakukan hal yang sama.
"kau tau Zi, kulihat diam-diam Ra mengharapkanmu sekalipun bagimu ia hanya teman cerita"
Zi salah tingkah, ia tidak ingin meninggalkan Na tapi ia tidak ingin Ra meninggalkannya begitu saja.
"kejarlah jika kau merasa hatimu berubah" ujar Na
Ajaib, perempuan itu selalu penuh kejutan membuat Zi menelan ludahnya, tenang pada kehilangan.

Komentar
Posting Komentar