Langsung ke konten utama

Postingan

Melawan Hati

Postingan terbaru

Bertahan

Tahun ini, kedua ramadan ketika kau mengatakan bahwa "Aku ingin serius denganmu". Aku ragu? Tentu saja. Laki-laki mana yang tidak ragu? Ramadan tahun lalu aku seorang pengangguran yang bekerja srabutan, apa saja. Punya cita-cita demikian besar tapi nyatanya tidak mampu mengurusi diri sendiri. Aku malu pada ibu, sehingga jarang pulang ke rumah. Sedangkan kau? Perempuan mandiri dengan pekerjaan mapan dan prestasi gemilang.  Aku dan kau yang awalnya hanya teman dan saling nyaman, aku sungguh merasa terdesak. Setiap malam, fikiran itu menggangguku. Aku merasa terbuang. Ini bukan persoalan cinta, aku mencintaimu sungguh. Namun, untuk terus menjalani segalanya? Di mana mukaku sebagai lelaki kutaruh? Sebelum ramadan, kau mengatakan bahwa "jika serius, hubungi ayahku. Setidaknya, kau memperjelas berapa maharnya!" Ah, ucapanmu memang tidak bisa ditawar-tawar. Kau selalu tegas dan pemaksa dalam banyak hal. Aku yang penggangguran ingin menghilang dari rumah. Akhirnya kuputuska

Kau dan rasa inginmu

"Aku ingin melihat wajahmu barang satu menit bolehkah?" "Aku sedang tidak mood untuk videocall dan aku ingin istirahat!" Tiba-tiba, rasanya langit runtuh begitu saja. Tawa-tawa yang sebelumnya tercipta dan pembicaaan hangat menjadi lenyap seketika, diganti dengan kesedihan yang bertalu-talu.  "Kau keren. Bisa menolak keinginan orang lain yang diinginkan darimu!" "Emosiku sedang tidak bagus akhir-akhir ini!" "Iya, kau keren. Aku? Tidak pernah bisa menolak permintaan terutama pada seseorang yang kusayangi, meski waktu itu aku sedang tidak ingin. Apakah sudah sedemikian kodrat perempuan? Harus melayani sekalipun dia sedang tidak ingin dan teramat lelah. Apakah sudah demikian kodrat lelaki? Sesuka hati kapan dia ingin dan kapan dia tidak ingin menolak tanpa peduli apapun. Katamu... Kau ingin menjadi teman dan sahabat. Kau ingin mengerti pola berfikirku Kau tidak ingin mendominasi Tapi... Sudahlah Cukup hatiku terluka hari ini.... Abdya, 00.04 wi

Bagaimana aku mempercayaimu?

Ada satu yang kupelajari dari banyak perempuan yang bertahan pada pilihannya atau meninggalkan yang dia pilih. Dasarnya mereka sudah berusaha, berusaha menyakini bahwa laki-laki yang mereka cintai akan datang tanpa melewati proses hukum perdata karena wanprestasi.  Duduk sejenak kekasih, sudah lama kita tidak berbicara. Terakhir kali, kau bilang bahwa kenapa akhir-akhir ini kita jarang berkabar karena kau sedang fokus pada kerjaanmu dan lebih sering berbicara dengan temanmu. Kau tau? Padahal, perempuan yang ingin mendampingimu ini juga sangat ingin mendengar ceritamu, kesulitan yang kau alami, berdiskusi kerjaanmu tapi kau tak pernah memberinya kesempatan. Apakah kau takut terlihat lemah dalam pandanganmu? Kau kira hatinya rela ketika kau lebih sering bercerita kesulitanmu pada teman perempuanmu yang lain dari padanya? Ah, kau lupa bahwa perempuan yang menyerahkan hatinya pada kau adalah perempuan yang cukup populer, ada banyak teman laki-lakinya untuk bercerita tapi dia memilih kau. K

Persimpangan

Perempuan itu belum tidur, ia khawatir kekasihnya dalam perjalanan.  "kau sudah sampai? Aman?" Tidak ada jawaban Satu jam Dua jam Dua jam setengah Aku sudah sampai dan ingin istirahat Sebuah pesan masuk ke Handphonenya. Perempuan itu lega, kekasihnya selamat sampai tujuan.  Ra, aku sudah sampai dan ingin istirahat Laki-laki itu mengirimkan pesan yang sama pada perempuan lain.  Ia tidur, tidak mengubris apapun.  Perempuan itu tidak bisa tidur, iseng ia mencari sebuah nama di instagram dan memantaunya. Postingan terakhir 18 jam yang lalu dengan lokasi "tebet". Perempuan itu berusaha menganalisis, melihat lagi stories kekasihnya sama persis. Ia kembali menscroll aku perempuan itu, kembali status-statusnya berisi kalimat ambigu. Jangan cepat mengambil keputusan terhadap yang kamu rasakan Hampir semua kalimat berakhiran "Zi". Ia tercenung, imajinasinya liar. Ia berprasangka bahwa itu kekasihnya.  Pagi tiba, 10 November hari pahlawan.  "Zi, aku ingin bicara