Bertahan
Tahun ini, kedua ramadan ketika kau mengatakan bahwa "Aku ingin serius denganmu". Aku ragu? Tentu saja. Laki-laki mana yang tidak ragu? Ramadan tahun lalu aku seorang pengangguran yang bekerja srabutan, apa saja. Punya cita-cita demikian besar tapi nyatanya tidak mampu mengurusi diri sendiri. Aku malu pada ibu, sehingga jarang pulang ke rumah. Sedangkan kau? Perempuan mandiri dengan pekerjaan mapan dan prestasi gemilang.
Aku dan kau yang awalnya hanya teman dan saling nyaman, aku sungguh merasa terdesak. Setiap malam, fikiran itu menggangguku. Aku merasa terbuang. Ini bukan persoalan cinta, aku mencintaimu sungguh. Namun, untuk terus menjalani segalanya? Di mana mukaku sebagai lelaki kutaruh?
Sebelum ramadan, kau mengatakan bahwa "jika serius, hubungi ayahku. Setidaknya, kau memperjelas berapa maharnya!"
Ah, ucapanmu memang tidak bisa ditawar-tawar. Kau selalu tegas dan pemaksa dalam banyak hal. Aku yang penggangguran ingin menghilang dari rumah. Akhirnya kuputuskan menerima pekerjaan di luar daerah. Kau membantuku,penuh.
Aku tergoda untuk berkomunikasi dengan teman satu komunitas, seorang pendengar dan pemberi solusi yang baik. Perempuan yang sempurna menurutku, tapi sisi hatiku yang lain bertanya apa aku rela meninggalkan kau yang sudah berjuang sejak lama bersamaku?
Tahun ini dua ramadan. Mahar menikah denganmu sedemikian tinggi, ibuku bilang berhenti saja. Aku dibisikkan mencari perempuan di kampungku yang lebih segalanya darimu. Berkali-kali kuharap kau marah dan meninggalkanku. Aku salah, semakin kuat aku bertingkat semakin kuat kau bertahan. Mengherankan, kau sebetulny makhluk bodoh dari planet mana?
Tahun ke dua ramadan, kau masih bertahan. Beberapa lelaki tampan dan mapan sekaligus berusaha mendekatimu, kau bungkam. Kau bilang, kau ingin bertahan denganku. Tapi, kali ini aku sudah tidak tahan. Kau memuakkan dengan sikap bertahan itu.
Ramadan kedua berakhir. Bulan Syawal, diam-diam aku melamar teman komunitasku, menaruh harapan lama padanya dan merasa kami saling cocok. Dia tidak menolakku, sekalipun dia tau ada kau di sisiku yang menemani sejak lama. Aku menjumpaimu, mengatakan bahwa "aku tidak bisa menikah jika kau desak, tabunganku tak cukup menikahimu!"
"Biar aku yang menambah mahar!" Ujarmu
Aku gugup, mencari kata-kata yang tepat.
"Bukankah kau percaya untuk terus bertahan sampai aku mampu menikahimu?"
"Iya, tapi bukan dengan alasan klise bahwa uangmu tidak cukup lantas kau bertunangan dengan perempuan lain!"
"Maksudmu?"
Kau menunjukkan foto sebuah acara pertunanganan dan jelas aku dalam foto itu bersama seorang teman komunitasku, perempuan yang kulamar tempo minggu.
"Kau kira, ketika aku diam aku tidak tau bahwa kau mencari-cari cara agar aku meninggalkanmu sehingga aku menjadi perempuan paling jahat di hubungan ini? Lantas kau sesuka hati menganggap bahwa kau adalah korban?"
"Ehm..."
"Menikahlah sesukamu, kau tidak perlu bohong mencari alasan ini itu jika kau sudah tidak bertahan lagi denganku. Pergi saja, katakan bahwa kau jatuh hati padanya."
"Aku, tidak bermaksud!"
"Sudahlah, aku memang perempuan keren yang tidak pantas didapatkan oleh lelaki sepertimu!"
Kau tidak berteriak ketika mengatakan itu, kau tersenyum. Lantas dengan elegan pergi meninggalkan aku yang merasa terpojok dan tanpa harga diri. Kau benar, aku pengecut berjiwa korban yang bertahan dalam urusan percintaan hanya karena ketidakenakan setelah perjuangan.
Aku mengejarmu, kau tidak berhenti. Aku tersungkur, tiba-tiba aku ingin menangis, langit tolong izinkan aku mati di belakang perempuan yang sebetulnya sangat kucintai tapi tidak ingin kumiliki, nazarku. Kau berbalik, menghampiriku yang sudah mulai kabur penglihatan mata.
"Aku sungguh mencintaimu sampai mati!" Ujarku
"Maka matilah, matilah sekarang!" Nadamu seperti perintah
Mata dadu bergulir, begitu kau berbalik ingin meminta pertolongan karena aku sekarat, aku mati, mati seperti nazarku dan perintahmu.
Blangpidie, 16 April 2021
🤪🤪🤪

Komentar
Posting Komentar