Melawan Hati
Aku tersungkur, perih hati. Aku ingin melupakan semua. Kenangan demikian lekat. Sebuah pesan masuk. Kekasihku, lelaki itu. Aku ingin meninggalkannya, agar tidak ada yang terluka.
🤷 kau masih mau bertahan sama saya? Saya merasa seperti di desak olehmu untuk segera menikah, tapi uangku untuk datang melamarmu masih jauh dari harapan keluarga mu
🤷♀️Kalo kau merasa di desak, kau boleh berhenti. Setidaknya beritahu aku.
🤷♂️: Bukan soal berhenti atau tidak. Hubungan ini antara aku dan dirimu. Kita bisa saja saling meninggalkan, ditingal atau tertinggal. Tapi kita bisa memutuskan bertahan
🤷♀️: Karena aku over thinking dan aku tidak ingin membebani kau. Maka, aku ingin memutuskan bahwa aku rela melepaskanmu kak. Kau berhak atas apapun atas keputusanmu. Pun aku. Sebab, kau tidak bisa mengambil keputusan juga kan? Jika berat biar aku saja
🤷♂️: Kau tega. Dan harus kayak gini. Aku sudah berharap
🤷♀️: Barangkali ini bisa kau pakai sepanjang masa. Iya aku tega. Aku memutuskan harapan orang-orang yang berharap. Sebab aku bukan Tuhan yang mengabulkan harapan. Mari berhenti kak. Aku pelaku dan kau korban. Aku meninggalkan dan kau yang ditinggalkan. Hatiku sakit sekali rasanya. Aku menangis, kepalaku sakit. Aku suka kau kak, tapi aku engga mau egois setiap kali aku ingin membicarakan nikah kau selalu mengganggap bahwa aku mendesakmu menikah. Maka aku melepaskanmu dari segala rasa di desak. Lagi pula aku cukup sakit untuk tidak bisa mengurusi diri sendiri. Apalagi mengurusi orang yang akan kunikahi. Maka, kufikir, kau pantas mendapatkan perempuan lebih baik
🤷♂️: Aku juga sakit. Menangis yang tidak mengeluarkan air mata. Sesak minta ampun. Kenapa mesti ambil keputusan begitu
🤷♀️: Kau maunya gmn kak. Kau terlalu sering terbebani oleh hubungan ini. Kau tdk biasa meninggalkan siapapun karena kau org baik. Jadi, aku saja. Aku hanya tau kau sibuk, aku menunggu kapanpun kau ingin cerita, saban hari kau selalu berusaha meluangkan waktu sibukmu kak, kau org baik sungguh. kau selalu ada untuk orang2, untuk pekerjaanmu, teman2mu, untukku. Aku senang karena itu kau. Sungguh
🤷♂️: Apa yang kau takutkan, dek?
🤷♀️: Takut pada semua hal. Bilang apa maumu
🤷♂️: Saat ini, aku hanya mau, hentikan overthinking mu. Coba analisa kata cemas, takut, itu dua kata yang berbeda ruangnya. Aku minta maaf yah, sudah buat kau nangis semalam. Hari ini lembar baru. Kita mulai lagi
🤷♀️: Kau mau lanjut?
🤷♂️Aku belum mundur. Semalam yang putusin siapa?
🤷♀️: Aku 😅
🤷♂️: Ya uda. Hari ini latihlah diri menjawab rasa cemas dengan banyak berfikir
🤷♀️Kenapa kamu engga mundur ?
🤷♂️: Karena itu bukan pilihan ku
Lelaki itu keras kepala, dia cuek, aku merasa dia tidak mencintaiku tapi dia selalu menyediakan waktu setiap hari.
🤷♂️ : Kita sudah terpisah. Prestasi kau memutuskan aku.
Aku diam saja, aku sungguh tersiksa. Aku mencintainya, bagaimanapun. Dia adalah satu-satunya kekasih yang kupertahankan dihadapan siapapun dua tahun belakangan ini. Aku ingin melepaskannya, melawan hati dengan segala cinta yang ada. Aku fikir dia bisa berbahagia dengan perempuan baik di dunia ini. Anehnya, semakin aku melawan hati, semakin kenangan menusuk jiwa raga tanpa bisa berfikir jernih. Aku pergi, melawan hati yang mencintainya.

Komentar
Posting Komentar