Postingan

RuBI Jember : Catatan Tentang Belajar

Gambar
"Menjaga semangat, terus belajar dan berada di lingkungan yang bisa menjaga semangat itu" ujar Cak Iqbal di malam terakhir RuBI Jember ketika aku dan dua teman lainnya masih setia nongkrong di depan teras rumahnya. Tahun lalu, ketika relawan narasumber dan dokumentator datang ke Aceh Barat Daya saya mengikrarkan janji dalam diri saya "tahun depan, saya harus menjadi narasumber dan punya rompi seperti mereka". Muluk? Jelas, apa sih yang saya punya sampai seberani itu. Namun, Allah maha baik. Doa setahun lalu itu di jawab, saya bisa mengikuti RuBI Jember, Jawa Timur. Apa yang saya beri? Mungkin tidak berarti, hanya demo yang pernah saya pelajari tentang media pembelajaran kreatif.  "Terima kasih mbak" seorang guru menyalami saya. Dug, saya terharu, saya kira materi saya belum berguna. "Terima kasih mbak, terus semangat" guru yang lain menyalami saya. "saya sama mbak ini, berguna sekali materinya" tapi si Bapak Guru h...

Hujan November (Kau, Aku Bukan Kita)

Gambar
November 2017, hujan turun satu kali dengan lebat lalu tiba-tiba purnama bersinar menyinari lautan di depan kita. Aku, kau dan teman lain duduk di loteng, diam hanya menatap rembulan awalnya. Lalu, kau mengawali pembicaraan "apa yang adoe kerjakan seharian ini?" itu hari pertama sekali kita benar-benar berteman bukan? Hingga sepanjang tahun kau katakan bahwa jarak adalah tempat kita menguji doa. Katamu, aku akan pulang dan meninggalkan kenangan loteng. Itu jenis percakapan kita, sepanjang tahun. November 2018, hujan turun di kotaku begitu juga di kotamu, samar terdengar suara jatuhnya diloteng. Percakapan di telepon berlangsung lama sejak november. Kau akhirnya berkata "Adoe, sepertinya tidak ada yang bisa saya lakukan untuk memperpendek jarak. Tapi, bisakah aku terus berkomunikasi denganmu? Aku senang sekali dengan saran-saranmu, masuk akal rasanya." Aku tau, itu adalah kata perpisahan untuk sebuah hubungan yang akan harusnya menjadi "kita". Apak...

Incridible Journey, apa pentingnya bagi wartawan?

Gambar
Pagi, jam 07.00 sebanyak 113 peserta yang telah dibagi dalam 13 kelompok berkumpul di depan Pusat Pendidikan Pancasila dan konstitusi (23/4). Fasilitator memberi tantangan kepada peserta dengn estafet tongkat. Jika selesai bisa memilih zona untuk Incridible Journey hari ini. Teman-teman media di beri tantangan  dan harus menyelesaikan seluruh tantangan dalam waktu yang sudah ditentukan. Tantangan yaitu Membuat video kreatif mengenai bentuk implementasi Pancasila  yang terjadi di sekitar masyarakat, Membantu pedagang untuk menjual dagangannya dengan harga dua kali lipat dibandingkan harga normal dan Melakukan sosialisasi mengenai nilai-nilai Pancasila kepada kelompok masyarakat. Saya dapat kelompok 10, kelompok prima. Empat kali gagal hingga kami menyelesaikan tantangan dan kami mendapat zona 3 tepatnya di  Pasar Cisarua Bawah : 2.8 KM  dari tempat pelatihan. Ketika sampai di sana, kami ber-9 segera mencari beberapa orang yang bersedia ditempatkan diwawan...

Wartawan Profesi tertua di Dunia dan Berat.

Gambar
Cisarua (22/4) pembukaan pelatihan peningkatan pemahaman hak konstitusional bagi warga negara dan wartawan se-indonesia, di Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi jalan Puncak, KM.83, Cisarua Bogor telah di mulai. Peserta yang datang dari Aceh, Medan, Natuna, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua mengikuti tehnical meeting bersama kepala sekolah dan staff pusat pendidikan dan konstational. Kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama yang akan tetap berlangsung selama 5 tahun mendatang menurut MOU antara Mahkamah Konstitusi (MK) RI dengan Dewan Pers. Saat pembukaan, ketua panitia M. Guntur Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi menyebutkan bahwa peserta tahun ini harusnya 160 orang. Ia juga mengatakan bahwa Profesi wartawan sudah ada sejak manusia membutuhkan informasi. Adapun tujuan pelatihan ini dilaksanakan antara lain meningkatkan pemahaman, kesadaran dan ketaatan terhadap pancasila dan konstitusi. Meningkatkan pemahaman dan menyamakan persepsi masyarakat mengenai konstitusi ...

Kau dan Cerita

Gambar
Adat di tempatmu bagaimana dik? Tanya kau, seolah cintamu sudah untukku Kau bertanya banyak hal tentang pernikahan Kau bertanya juga tentangku. Apakah kau tau? Jika saja aku boleh duluan melamar, kau adalah laki-laki yang ingin kulamar. Jika saja aku tidak tau malu dan segala beban adat itu. Kau tidak tau, bagaimana hatiku tertaut padahal belum mengenal kau Kau tidak tau bagaimana aku setengah mati mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu pertama sekali. Setelah bertemu? Aku tau ada yang beda dengan hatiku. Setelah diskusi panjang melalui chat, aku ingin punya harapan lalu aku berfikir lagi, aku tidak boleh begini. Hatiku, bukan untuk dinodai oleh harapan sebelum ketentuan takdir. Hai kau, selamat menikmati pekerjaanmu. Jika kau adalah takdirku semoga segera bertamu. Malang, 11 September 2019

Sapaan

Gambar
Kau tau, ketika dingin cukup menusuk Kenangan terlintas tanpa direm Kau tau siapa yang terlindas kenangan? Aku, tentu saja. Kau? Sekali kau datang menyapa Runtuh sudah segala kekuatan yang ku bangun selama tiada kau Bagaimana bisa kau begitu tega? Benteng pertahanan rusak Kau menari pada kerusakan itu Kau datang, memberi pesan Basa-basi sudah makan? Lalu pergi, hilang Lenyap sudah

Apakah benar kali ini?

Gambar
Dik, aku ingin bertanya padamu Begitu serius pertayaan itu Aku masih tergugu, tak menjawab tak menolak Kau mengulang lagi tanyamu Akhir-akhir ini, hidup kita begitu sibuk bukan? Kau terjebak pada pekerjaanmu Aku terjebak pada kenangan Lama kita tidak mengobrol... Dik, sudah siapkah kau menikah? Pertayaan ke sekian darimu Aku? Tidak pernah berniat menolakmu Namun aku takut lagi, kali ini salah. Dik, kenapa kau hanya menatap bunga itu? Apakah aku kurang menarik? Aku masih belum berani menolakmu Dik, tetap sehat meski sibuk . . . Malang, 31 Juli 2019