bintang

Minggu, 18 November 2012

Makalah hadits : Niat/motivasi dalam beramal


IKHLAS BERAMAL
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA                                             : NITA JUNIARTI
NIM                                                  : 511102502
DOSEN PEMBIMBING                : LISMIJAR M.A

FAKULTAS ADAB INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI
IAIN AR-RANIRY
BANDA ACEH
2012


PENDAHULUAN

Niat secara bahasa adalah maksud dan keinginan hati untuk melakukan sesuatu.  Niat menurut syariat adalah keinginan hati untuk menjalankan ibadah baik yang wajib atau yang sunnah1.

            Tempat niat adalah didalam hati. Jika seseorang berniat wudhu dalam hati kemudian dia berwudhu maka sah wudhunya walaupun dia tidak melafadzkan niat tersebut. Dalam niat tidak diharuskan mengucapkan dengan lisan, akan tetapi cukup dalam hati. jika seseorang berniat dalam hati dan mengucapkannya dengan lisan maka lebih sempurna. karena niat adalah sebuah keikhlasan maka tempatnya adalah dalam hati.
Secara bahasa, Riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia, adapun secara istilah yaitu: melakukan ibadah dengan niat dalam hati karena demi manusia, dunia yang dikehendaki dan tidak berniat beribadah kepada Allah SWT2.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”. Imam Al-Ghazali, riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. Sementara Imam Habib Abdullah Haddad pula berpendapat bahwa riya’ adalah menuntut kedudukan atau meminta dihormati daripada orang ramai dengan amalan yang ditujukan untuk akhirat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.
Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah, mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudharat, membuat hukum dan syariat dan lain-lainnya.



[1]PEMBAHASAN

A      Niat/motivasi beramal
1.      Teks ayat :
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّمَا
اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
 لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ  (رواه البخاري مسلم)
2.      Terjemahan hadits
Dari amirul mu’minin, abi hafs umar bin al khattab radiallahuanhu, dia berkata: saya mendengar    rasulullah saw bersabda : sesungguhnya setiap  perbuatantergantung niatnya  dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya  karena (ingin mendapatkan keridhaan) allah dan rasul-nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) allah dan rasul-nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagai  mana) yang dia niatkan.1 (HR. Bukhari dan muslim)
3.      Penjelasan hadits
Sebab keluarnya hadits ini adalah tentang seorang lelaki yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita yang bernama ummu qois maka diapun dipanggil dengan sebutan muhajir ummu qois (orang yang berhijrah karena ummu qois)”. Wanita itu sudah berniat untuk hijrah sedangkan lelaki tersebut awalnya memilih tinggal di mekkah tapi karena ingin menikahi ummu qois juga maka ikutlah ia berhijrah bersama  nabi. Ketika nabi di tanya di terima atau tidak niat pemuda tersebut maka keluarlah hadits di atas.
Menurut hasbi as-shidiqi, niat itu terbagi 3 (tiga), yaitu :
1.      niat ibadah, yaitu tunduk dan patuh melaksanakan yang di perintahkan.
2.      niat ta’at, yaitu melaksanakan apa yang allah kehendaki.
3.      niat qurbah, yaitu melaksanakan ibadah dengan maksud memperoleh pahala.
Allah swt. Menggambarkan keikhlasan dalam beramal ini seperti dimuat keikhlasan dalam beramal ini seperti dimuat dalam al-qur an surat al-baqarah (2) ayat 265  yang artinya sebagai berikut :
 dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan allah maha melihat apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al-baqarah : 265)2



[1] Nita, , web…, Diakses pada tanggal 6 November 2012.

Syirik adalah mensejajarkan selain Allah dengan Allah dalam hal–hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. Kekhususan Allah meliputi tiga hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ dan sifat.
Yaitu kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah).
Syirik Di Dalam Ar Rububiyyah
Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari sifat-sifat ar rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.
Syirik Di Dalam Al Asma’ wa Ash Shifat
Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib.

 
4. Kesimpulan
Niat merupakan syarat diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala) bukan karena yang lain.  Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.  Ikhlas niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.   Seorang mu’min akan diberi pahala berdasarkan niatnya. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka akan bernilai ibadah. Hadits diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut konsepnya  adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

B.  Menjauhi perbuatan Riya/ Syirik Kecil
1.      Teks Hadits
Riya’ adalah syirik kecil; demikianlah ungkapan yang dikemukakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، قَالُوْا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟

قَالَ الرِّيَاءُ، يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِيْ تُرَاءُوْنَ فِي الدُّنْيَا هَلْ

تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمُ الْجَزَاءَ (رواه أحمد)1









2.      Terjemahan hadits
Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah SAW?”, Beliau menjawab, “Riya.! Dan Allah akan berkata pada hari kiamat, terhadap mereka-meeka yang riya, ‘pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu di dunia kalian riya’, apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?” (HR. Ahmad)
”Dari Mahmud bin Lubaid bahwa Rasulullah S.A.W bersabda : sesungguhnya yang paling Aku khawatirkan di antara kamu adalah syirik kecil yaitu ria” (H.R. Ahmad dengan sanad Hasan)
3.      Penjelasan hadits
Syirik adalah mensejajarkan Allah dengan yang lain dalam hal–hal yang merupakan kekhususan bagi Allah. Kekhususan Allah meliputi tiga hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’.  Syirik Di dalam Ar Rububiyyah Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari sifat-sifat ar rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.  Syirik Di dalam Al Asma’ wa Ash Shifat Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib.
Riya adalah amalan yang dilakukan seseorang guna mendapatkan keridhoan manusia, baik berupa pujian, ketenaran, atau sesuatu yang diinginkannya selain Allah SWT. Dr. Sayid Muhammad Nuh, menggambarkan adanya tiga sebab yang memotori timbulnya riya: Pertama karena ingin mendapatkan pujian dan nama baik di masyarakat. Kedua, kekhawatiran mendapat celaan manusia, dan ketiga, menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain (tamak). Ketiga hal ini didasari dari hadits, yang diriwayatkan Imam Bukhari:
Dari Abu Musa al-Asyari ra, mengatakan bahwa seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah SAW, seseorang berperang karena kekesatriaaan, seseorang berperang supaya posisinya dilihat oleh orang, dan seseorang berperang karena ingin mendapatkan pujian? Rasulullah SAW menjawab “Barang siapa yang berperang karena ingin menegakkan kalimatullah, maka dia fi sabilillah.” (HR. Bukhari)
Terdapat sebuah ungkapan yang dikemukakan oleh seorang sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib tentang ciri-ciri riya’ yang terdapat dalam jiwa seseorang:
قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ، لِلْمُرَائِيْ عَلاَمَاتٌ، يَكْسُلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَطُ إِذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيْدُ فِي الْعَمَلِ إِذَا أُثْنَى، وَيَنْقُصُ إِذَا ذُمَّ
“Orang yang riya, terdapat beberapa ciri, (1) malas, jika seorang diri, (2) giat jika di tengah-tengah orang banyak, (3) bertambah semangat beramal jika mendapatkan pujian, (4) berkurang frekwensi amalnya jika mendapatkan celaan.”
cara- cara menghindari ria dan memupuk keikhlasan
a)      Menghadirkan sikap muraqabatullah, yaitu sikap yang menghayati bahwa Allah senantiasa mengetahui segala gerak-gerik kita hingga yang sekecil-kecilnya, bahkan yang tergores dan terlintas dalam hati sekalipun yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengungkapkan, “..dan sempurnakanlah amal, karena Sang Pengawas (Allah) Maha Melihat.
b)      Seseorang perlu menyadari dan meyakini, bahwa dengan riya, seluruh amalannya akan tidak memiliki arti sama sekali. Amalannya akan hilang sia-sia dan akan musnah. Serta dirinya tidak akan pernah mendapatkan apapun dari usahanya sendiri.
c)      Dirinya pun perlu menyadari, bahwa lambat launpun manusia akan mengetahui apa yang terdapat di balik amalan-amalan baik yang dilakukannya, baik di dunia apalagi di akhirat kelak.
d)     Dirinya juga perlu meyadari pula bahwa dengan riya, seseorang dapat diharamkan dari surga Allah. Dalam hadits digambarkan, bahwa Rasulullah SAW menangis, karena takut umatnya berbuat riya’. Kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang belajar ilmu pengetahuan bukan kerena mencari keridhoan Allah tapi karena keinginan duniawi, maka dia tidak akan mencium baunya surga.”
e)      Banyak berdzikir kapada Allah SWT, terutama manakala sedang menjalankan suatu amalan, yang tiba-tiba muncul pula niatan riya. Hal ini sebaiknya segera diterapi dengan dzikir.
4.      Kesimpulan
keikhlasan sangat di butuhkan sehingga semua orang akan berbuat hanya karena Allah bukan karena yang lain sehingga akan melahirkan masyarakat yang benar-benar berada di jalan-Nya tanpa ada unsur keriyaan.  Berbuat Syirik adalah tercela dan harus ditinggalkan, Riya’ yaitu melaksanakan suatu perbuatan (amal) tidak untuk mengharapkan ridha Allah, melainkan untuk tujuan yang lain. Setiap mukmin harus senantiasa menjauhi sikap riya’, karena riya’ dapat membatalkan sebuah amal kebaikan dan memalingkannya kepada keburukan. Dari segi jenisnya, syirik itu terdapat 2 bagian, yaitu syirik kecil (riya’) dan syirik besar. Kedua syirik tersebut berbahaya karena dapat menghanguskan keimanan kita kepada Allah Swt.
DAFTAR PUSTAKA
shalih al-‘utsaimin, syaikh Muhammad.2003. Syarah Hadist Arbain. Bogor : Pustaka Ibnu Katsir
syafe’i, Rachmat.2000. Al-Hadits. Bandungr:  Setia Pustaka
Al-qur’an Jus 30, 29, 28, Hadits Arba’in dan Al-matsurat penerbit Indiva : Surakarta
Al-qur’an dan terjemahannya oleh Departemen agama 2004




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar