Postingan

Menampilkan postingan dengan label news

Incridible Journey, apa pentingnya bagi wartawan?

Gambar
Pagi, jam 07.00 sebanyak 113 peserta yang telah dibagi dalam 13 kelompok berkumpul di depan Pusat Pendidikan Pancasila dan konstitusi (23/4). Fasilitator memberi tantangan kepada peserta dengn estafet tongkat. Jika selesai bisa memilih zona untuk Incridible Journey hari ini. Teman-teman media di beri tantangan  dan harus menyelesaikan seluruh tantangan dalam waktu yang sudah ditentukan. Tantangan yaitu Membuat video kreatif mengenai bentuk implementasi Pancasila  yang terjadi di sekitar masyarakat, Membantu pedagang untuk menjual dagangannya dengan harga dua kali lipat dibandingkan harga normal dan Melakukan sosialisasi mengenai nilai-nilai Pancasila kepada kelompok masyarakat. Saya dapat kelompok 10, kelompok prima. Empat kali gagal hingga kami menyelesaikan tantangan dan kami mendapat zona 3 tepatnya di  Pasar Cisarua Bawah : 2.8 KM  dari tempat pelatihan. Ketika sampai di sana, kami ber-9 segera mencari beberapa orang yang bersedia ditempatkan diwawan...

Ujian Asik di Kelas Enci Nita

Gambar
Ujian? Harap senang dong, berikut beberapa tipsnya.  1. Pameran Soal Waktu itu pelajar IPA. Saya membuat pameran soal. Gampang sekali caranya, guru cukup membuat jumlah soal Uas misalnya 15 choice, 5 jawabalah dengan benar dan 5 isian. Namun, bedanya soal itu ditulis di kertas buram yang besar kemudian diberi gambar menarik (bisa juga diketik dan diprint poster) sehingga anak-anak mudah membacanya. Anak-anak dibagi kedalam 5 kelompok, setiap kertas berisi 5 soal dipasang diberbagai sudut ruangan boleh juga diluar kelas. Guru bertindak sebagai pemandu (buatan id card menarik untuk guru), siswa sebagai peserta pameran (buat name tag juga untuk siswa). Boleh juga soalnya diprint dan ditaruh pada setiap stand. Anak-anak dibawa guru untuk dijelaskan bagaimana cara mengisinya. Putaran musik/murattal Quran supaya anak-anak tetap berada di zona alpha. Ujian jadi tidak mengerikan bukan? Selamat mencoba, oh iya ini cocok untuk kelas besar yang sudah mengerti di arahkan dan sudah bis...

Lari-lari di Bandara Kuala Lumpur

Gambar
 Ti ket melambung tinggi untuk perjalanan domestik, lima hari sebelum keberangkatan email panggilan wawancara kerja tahap dua masuk. Saya, yang konon pengen move on dan pengen merantau untuk belajar lagi akhirnya memutuskan untuk mencari cara agar bisa ke ibu kota. Bukan tidak betah dengan kerjaan sekarang tapi dalam jiwa saya ingin mencari pekerjaan sekaligus yang bisa mengantarkan saya kuliah suatu hari nanti. Tekad sudah ada, niat dipertebal, ibu mengizinkan, bismillah. Tanya sana-sini harga tiket, tetap tidak murah akhirnya memutuskan untuk mengambil perjalanan ke luar negeri dulu baru kembali ke Indonesia. Pasalnya, harga tiket ke luar negeri dulu dengan langsung dalam negeri bedanya sampai 400 ribuan dan waktunya juga cuma beda satu jam. Jika dari kampung untuk sampai ke Ibukota 4 jam maka dengan transit di luar negeri 5 jam. Sehari sebelum berangkat, dibantu kak Lia istrinya bang Taufik akhirnya perjalanan sendirian ke luar negeri (singgah sebentar) dilakoni.De g-degkan...

Kosongkan Gelasmu!

Gambar
Berjumpa dengan Pengajar Muda lain adalah momen paling ditunggu untuk mencharger kembali energi yang hilang, memanggil kembali rasa nasionalisme yang hilang atau tenggelam oleh pekerjaan. Indonesia Mengajar Goes to Community di SDIT Rabbani Quraan School, Selasa, 14 Januari 2019, yang paling terniat dibuat diadakan oleh komunitas Agam Inong Aceh Barat Daya. Akhirnya, setelah setahun janjian dengan Bang Ulil dan Kak Wirda terlaksana juga, Yosa yang Fress from the oven benar-benar membuat kita kembali memanggil jiwa "apa sih yang sudah dibuat untuk negeri ini?" Cerita Yosa tentang 21 jam naik perahu dari Ternate sampai Sanana, ibu kota kabupaten. Lalu dilanjutkan enam jam berperahu lagi ke Mangoli Barat, kecamatan tempat tugasnya mungkin tidak pernah kurasakan, cukup membuat aku bersyukur karena ditempatkan di Banggai. Terus, cerita tentang uang ringgit, telur Indonesia lebih mahal dari Bang Ulil yang ditempatkan di Nunukan juga tidak kalah menarik. Kak Wirda, Pengajar M...

Palu : seperti palu yang mengetuk paku, kuat

Gambar
Jumat, 28 September 2018. Gempa berkekuatan 7.4 SR menimpa palu kemudian disusul dengan tsunami yang tidak bisa dielakkan. Saat ini sudah ada 800 lebih jiwa yang insya Allah syahid dan 500 lebih terluka. Bantuan datang, media sosial sibuk menggalang dana beberapa malah menggunakan kesempatan ini untuk beberapa niat tidak baik. Kenapa kita diberi musibah? Supaya menyadari bahwa begitulah Allah berkuasa yang sekejap bisa selesai kemudian harus dimulai dari awal. Lantas kenapa kita ragu bahwa kiamat benar-benar ada? Namun, musibah adalah titik awal bangkit. Titik awal menyadari bahwa segalanya akan terobati oleh waktu, segalanya hanya soal waktu. Maka, pada pelukan jauh sebagai saudara yang pernah merasakan hal yang sama 14 tahun lalu, kehilangan keluarga 14 tahun lalu, Palu bangkitlah. Mari berpegang tangan, menata (lagi) jalanan yang akan ditempuh. Palu kuat, palu bangkit.

Display kelas : jendela Pengetahuan

Gambar
Jendela ilmu berbahasa Inggris  Sekolah sebenarnya adalah ladang kreatifitas untuk mengembangkan segala sesuatunya. Membiarkan kelas kosong tanpa hiasan rasanya tidak seru. Maka, tercetuslah ide jika membuat gantungan cantik tapi tetap mengandung ilmu pengetahuan. Beginilah cara membuatnya : 1. Carilah/buat sendiri gambar dari bidang studi yang ingin dijadikan bahan jendela ilmu misalnya bahasa inggris 2. Prin dan beri lakban bening jika ingin awet 3. Taruh ditali menjadi gantungan di jendela. Tidak sulit bukan? Hanya modal memprin dan menlem agar awet. Selamat mencoba. Jika kelas tinggi bisalah diminta tolong kepada siswa setelah guru mencontohkan satu buah. Selamat mencoba guru hebat. Sang pelopor perubahan pendidikan Indonesia lebih baik

Catatan Tentang Kota

Gambar
"sampai torang baku dapat lagi" begitu kata seseorang diakhir perpisahan saat kembali ke Jakarta 2017 lalu. Kota kecil itu telah menjadi bagian dari kenangan. Kota Luwuk namanya, sebab datang sebagai tamu dan guru bantu di sekolah rasanya momen di kota tersebut adalah momen di mana ada hal yang disadari akan berbeda bila datangnya bukan sebagai guru. Ah iya, saya tidak akan menceritakan tentang kerjaan saya di sana. Saya ceritakan tentang kota itu saja. Kota Luwuk, menurut saya "ngana ke laut bagulengpun sampai, nga pigi ke gunungpun sambil merangkak bisa ka sana, ka aer terjun? Sambil hoyot di atas motor nga so sampai nah" gambaran alam begitulah. Malam di Lalong Orang-orang di Luwuk yang kami kenal sangat ramah, mereka rela menyedihkan rumah untuk kami menginap pun memasak makanan untuk di makan. Saya suka "milu siram" dekat alun-alun, suka juga milu siram di jalanan menuju Sabua, enak sekali rasanya. Kota ini kecil memang, tapi di sana p...

Indeks Kebebasan Pers sebagai tolak ukur

Banda Aceh – Seminar Potret Kebebasan Pers di Aceh diadakan oleh Dewan Pers dalam rangka evaluasi mengetahui sejauh mana kebebasan pers sudah dirasakan di Aceh.  Seminar tersebut berlangsung di Hotel Hermes Palace, Rabu (11/11/2015) . “ Indeks Kemerdekaan  Pers dibutuhkan sebagai alat ukur, data yang menjadi data tunggal dan fenomena yang diukur melalui perbandingan serta perbaikan dalam pers.” Ujar Imam Wahyudi pada pembukaan Seminar.             Lebih lanjut, Imam menjelaskan IKP ( Indeks Kemerdekaan  Pers ) dibutuhkan sebagai gapaia kebebasan pers, usaha negara menjalankan HAM dan gambaran perwilayah bagaimana kebebasan pers tersebut diterapkan. Tujuan dari IKP sendiri adalah untuk merekam kondisi kebebasan Pers, peran aktor dalam pembuatan kebijakan, alat moniroting serta tempat intropeksi. IKP dibutuhkan untuk melihat sejauh mana kebebasan pers sudah berjalan.        ...