Langsung ke konten utama

9 Fakta Pulau Breueh Aceh Besar yang Keindahannya Terabaikan

pulau breueh
Foto oleh Nita Juniarti
Kala itu, tahun 2012, booming sebuah film dokumenter tentang Pulau Aceh di kalangan lokal saya. Pulau Aceh adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, terletak paling barat. Entah mengapa, saya dan beberapa teman benar-benar tertarik dengan apa yang terdapat di film dokumenter tersebut, tentang suatu tempat yang memiliki keindahan alam luar biasa, masyarakat yang ramah, namun sayang seribu sayang tempat tersebut masih sangat tertinggal, baik dari segi SDM maupun fasilitasnya.  Kami akhirnya memutuskan datang ke sana sebagai relawan untuk mengajari anak-anak Pulau Aceh membaca. Kami mengajar di Pulau Breueh, salah satu pulau yang masih satu kawasan dengan Pulau Aceh,  saya mendapat banyak pengalaman berharga.
Pemukiman di Pulau Breueh dibagi dalam beberapa mukim, salah satunya mukim Pulo Breueh Utara. Di mukin tersebut, kami tinggal di desa bernama Desa Meulingge dan juga Desa Rinon.

1. Mengenal Pulau Aceh dari Film Dokumenter “Pulo Aceh Surga yang Terabaikan”

Film dokumenter yang berdurasi 20 menit 40 detik karya Lamp On Aceh Community yang disutradarai oleh RA Karamullah mendapatkan perhatian dari masyarakat tentang realita kehidupan di Desa Melingge. Film dokumenter ini menampilkan keindahan Pulau Aceh khususnya Desa Melingge, namun sayangnya sarana dan pra-sarana belum memadai, selain itu banyak anak-anak yang putus sekolah dan juga warga desa yang belum bisa baca tulis.

2. Tidak ada kapal wisata, boat nelayanpun jadi

Mengapa harus berkunjung ke Pulau Breueh? Saat berada di pulau ini seperti benar-benar diyakinkan bahwa negeri kita, Indonesia, benar-benar cantik!
Meski letaknya cukup terpencil -tak seperti jika ke Sabang yang bisa menggunakan kapal besar- untuk sampai ke Pulau Breueh harus menggunakan boat nelayan dan menempuh perjalanan laut selama dua jam.
Inilah sensasi bertualang sesungguhnya. Tanpa pelampung, tanpa fasilitas-fasilitas memadai lain, menembus ombak, benar-benar memacu adrenalin. Ah ya, kita akan berangkat bersama masyarakat lokal yang berkunjung ke Banda Aceh dengan boat nelayan yang sama.

3. Melingge, sepotong ‘surga’ yang terabaikan

Pelabuhan Melingge dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dari Banda Aceh menggunakan boat nelayan yang berlabuh di Gugop kemudian lanjut perjalanan ke Melingge dengan sepeda motor, melewati jalan terjal nan licin dengan pemandangan laut yang mengagumkan.
Panorama pantai pasir putih, cantiknya rerimbunan hutan hijau yang menyegarkan mata, aneka ragam spesies ikan serta terumbu karang yang indah sebenarnya aset yang bisa dijual dari Desa Melingge. Namun masalah datang saat musim hujan, akses menuju Desa Melingge menjadi sulit. Jalan batu, terjal dan licin, serta rimbunnya hutan di sekitar jalur menjadi tantangan, harus ektra hati-hati ke sini. Hal ini harus mendapat perhatian khusus dari pihak yang berwenang.

4. Dokter dan guru masih langka

Pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan saya rasa Pulau Breueh masih merupakan bagian dari Indonesia, jadi tentu tiap manusia yang hidup disana berhak mendapat hak pendidikan yang sama dengan manusia-manusia yang tinggal di wilayah perkotaan.
Puskesmas dan sekolah memang sudah dibangun bagus sejak bencana Tsunami 2004 melalui bantuan BRR. Sayangnya, tenaga pengajar dan tenaga medis masih menjadi hal langka di Pulau Breueh. Mereka terkadang hanya datang seminggu sekali.
Meski demikian anak-anak Pulau Breueh tak pernah kehilangan semangat untuk mendapat pendidikan layak. Mereka selalu terlihat sangat senang jika ada mahasiswa-mahasiswa yang datang mengajar. Sungguh memalukan jika kita yang mendapat fasilitas lengkap justru malas-malasan menuntut ilmu.

5. Sensasi menempuh perjalanan malam di bawah taburan bintang

Jika sewaktu-waktu boat telat berangkat karena faktor cuaca maka kamu akan dapat menikmati suasana malam dari Gugop ke Desa Melingge yang memerlukan waktu tempuh satu jam. Meski jalanan cukup terjal dan licin jika sedang musim hujan, pemandangan malam dengan taburan bintang, bulan yang bersinar dan suara deburan ombak dari pantai yang terlihat dari atas jalan akan membuat dadamu berdesir, bersyukur dan bangga telah dilahirkan di Indonesia.

6. Tidak ada sinyal handphone!

Pekerjaan masyarakat Desa adalah nelayan dan bertani. Topografi wilayahnya berupa perbukitan dengan hutan lalu pantai pasir putih. Namun kondisi alam yang indah ini tidak diiringi dengan fasilitas yang memadai sehingga meski Pulau Breueh bagi saya tidak kalah menarik dengan Bali, bahkan Raja Ampat, tempat ini masih jauh untuk menjadi tempat wisata layak kunjung. Sangat disayangkan.
Listrik cukup memadai, namun kondisi jalanan hanya berupa aspal yang terkesan dibangun asal-asalan, selain itu hampir semua sinyal operator tak mampu menjangkau tempat ini kecuali operator ‘si merah’ -itupun saya harus dengan meletakkan handphone dikaki tangga untuk mendapat sinyal.
Namu saya pikir tempat ini bagus untuk terapi pengobatan bagi kamu yang sudah kecanduan smartphone.

7. Masyarakatnya super ramah

Penduduk Pulau Breueh adalah orang-orang yang ramah, mereka selalu menawarkan bantuan bagi para pendatang, kamu akan merasa seperti berkunjung ke tempat saudara jauhmu di sini. Begitu kental rasa kekeluargaan di Pulau Breueh.
Tidak ada hotel mewah seperti yang ada di tempat-tempat wisata populer yang sering kamu lihat di televisi. Namun jangan khawatir, penduduk di sini akan menawarkan rumah mereka untuk sekadar menjadi tempatmu berteduh dan merebahkan punggung,  atau jika kamu ingin berkemah pun tak masalah asal memiliki izin pada pihak berwenang setempat.

8. Berburu sunset

Apa hal yang menarik dari Pelabuhan Rinon? Tentu saja ke-natural-an tempatnya! Tempat ini dikelilingi oleh gunung yang megah, juga masyarakat lokal yang ramah. Selain itu satu hal yang tak boleh terlewatkan adalah, momen matahari terbenamnya.
Jika berkunjung ke pantai kita tidak akan dipungut biaya masuk, seperti dibanyak tempat wisata Kabupaten Aceh Besar. Panorama alam tempat ini saat senja mampu akan membuat kita betah dan kecanduan ingin bertandang lagi ke sini. Luar biasa cantik dan menenangkan pikiran, menyaksikan lautan luas yang begitu bening bahkan sampai kelihatan isi lautnya.
Dan saat sunset,  kamu akan mendapati matahari yang kembali ke peraduan dengan  latar pegunungan, juga pulau-pulau kecil dari pelabuhan.

9. Menyambut pagi dari atas boat

Pulau Breuh hanya bisa ditempuh dengan boat nelayan, baik jika ingin menuju atau keluar dari pulau. Jika ingin keluar maka ketika bintang masih menghiasi langit malam tepatnya pukul 3.30 pagi, kamu sebaiknya bergegas menuju Pelabuhan Rinon. Tidak ada trasnportasi lain menuju ke Banda Aceh selain pada jam tersebut. Beberapa penduduk yang ingin membeli barang kebutuhan di Banda Aceh juga ikut serta, sepeda motor dibaris rapi dalam boat lalu bersiap berangkat menyambut pagi dari boat menuju Banda Aceh.

dimuat di http://story.phinemo.com/9-fakta-pulau-breueh-aceh-besar-yang-keindahannya-terabaikan/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yuk ke Bendungan Brayen, Aceh Besar

Nita Juniarti AcehNews.net –  Bendungan Brayen merupakan hasil dari ekspresi keindahan alam dengan perbuatan manusia. Bendungan ini berada di Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh jaraknya sekitar 30 Kilomoter  dari Banda Aceh. Tidak sulit mencarinya, melewati jalur pantai Barat-Selatan, nanti Anda akan menemukan papan bertuliskan  “Wisata Brayen”. Kemudian dari arah pintu masuk tersebut Anda bisa terus berjalan ke lokasi wisata, lebih kurang 100 meter. Ada yang view yang indah saat Anda melintas di jalan masuk tersebut. Jalan lintasan masyarakat kampung yang masih alami ini akan memberi  landscape , sawah tadah hujan dan masyarakat yang berlalu lalang. Jika sedang musim hujan maka harus ekstra hati-hati saat melalui jalan ini. Nita Juniarti-Teman KPM PAR MAheng Biasanya tempat ini dikunjungi oleh keluarga, kaulah muda di hari libur khususnya pukul 15.00 yang paling ramai dikunjungi. Tiket masuknya hanya Rp2.000 per orang dan parkir dengan harga yang sama. Air s

Cerita Film : Jembatan Pensil

Film Jembatan pensil. Latar belakang dari film ini adalah suasana di perkampungan suku Muna, Sulawesi Tenggara. Menariknya, film yang mengangkat kisah Ondeng, si anak berkebutuhan khusus tapi selalu setia pada teman-temannya. Empat sekawan itu bernama Inal, Aska, Nia dan Ondeng berjuang mencari pendidikan dari guru mereka di sebuah sekolah gratis. Inal dan Ondeng sama-sama memiliki kekurangan fisik dan mental. Inal adalah anak tuna netra, sedangkan Ondeng terbelakang secara mental. Keterbatasan yang mereka miliki tak pernah sedikitpun melunturkan niat mereka mencari pendidikan. Ondeng, sangat pintar menggambar. Semua dia gambar salah satu gambarnya adalah jembatan yang sering di lewati oleh teman-temannya. Ondeng rajin sekali menabung, sebab jembatan yang teman-temannya lewati sudah sangat rapuh. Ia ingin menganti jembatan itu. Namun, uang Ondeng belum cukup untuk membuat jembatan malah suatu hari jembatan itu  rubuh saat mereka melintas. Ondeng yang rumahnya lebih jauh dan selal

Prasangka

  Meski sudah belajar banyak, meski sudah tau tips ini itu, sungguh tidak mudah bagi seorang perempuan mengatasi perasaannya sendiri, rasanya teramat mustahil baginya setiap kali ia mengalami guncangan perasaan. Jun dan Wi jarang bertengkar, selama LDRan, Dunia yang berada dalam resesi membuat mereka semakin kalut dengan pertahanan masing-masing. Rencana pernikahan harus ditunda, keadaan tidak memungkinkan. Biasanya salah satu dari mereka mengalah agar tidak terjadi pertengkaran hebat, tapi tidak malam itu, mereka sama-sama jenuh.  "Aku capek sekali, berusaha sebisa mungkin  untuk niat baik. Tapi barangkali kau memahaminya berbeda" teriak Jun diseberang sana  "Kalo kau capek : berhentilah" Wi balas berteriak "Cari uang untuk bisa melamarmu siang dan malam, yakinkan Umi, mama, kamu, dan bahkan meyakinkan dirimu juga aku, semuanya harus kulakukan sendiri. Aneh, bukannya kau yang terdengar ingin berhenti" "Dan aku ga pernah ada bersama kau?" "J